Perlukah Student Loan Diterapkan di Indonesia?

Kebijakan yang dilahirkan pemerintah perlu ditanggapi secara positif sekaligus dikritisi. Dalam perundang-undangan yang dibuat sejak dahulu, termuat banyak sekali hak-hak rakyat yang perlu diakomodir oleh pemerintah, dan proses pemenuhannya tidak akan pernah usai.

Slogan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” belakangan mulai dianggap sebagai angin lalu saja mengingat mereka yang diamanatkan rakyat untuk mengelola negara dan pemerintahan ada saja yang mencederai kepercayaan, lewat tindak korupsi misalnya.

Sedang itu, pemerintah terus memperbaharui kebijakan yang dirasa dapat menyelesaikan suatu problem sosial. Di Indonesia misalnya, pemerintahan seringkali mengadopsi suatu cara yang dilakukan suatu negara untuk mengatasai problem sosial negaranya. Yang sering menjadi perhatian dan kritik adalah, soal sesuai-tidak sesuainya cara tersebut diimplementasikan di Indonesia kemudian.

Kebijakan yang sedang marak diperbincangkan terutama di kalangan mahasiswa adalah kebijakan student loan atau pinjaman uang untuk pelajar. Ini merupakan sistem keuangan yang telah diterapkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Australia dan negara-negara lainnya di dunia.

Pemerintahan Jokowi telah menempuh banyak hal untuk mensukseskan program kerjanya. Seperti yang telah kita ketahui semua bahwa Indonesia di era Presiden Jokowi memiliki program yang banyak, terutama program pembangunan infrastruktur.

Banyak program pembangunan di Indonesia didukung oleh dana dari kerjasama dengan negara lain, seperti Singapura dan Cina. Hal ini tentunya dikarenakan pemerintah tidak memiliki dana yang memadai untuk mensukseskan program kerja pembangunan tersebut. Program lain selain infrastruktur nampak perlu mendapat perhatian juga. Selain itu pendapatan negara sendiri sedang dipompa melalui perpajakan negara, dimana pemerintah benar-benar mencari banyak celah dari pemasukan pajak.

Selain itu, kenaikan harga dan ekspor merupakan cara lain pemerintah untuk mendapatkan dana segar. Hal ini yang kerap menjadi lahan kritik dari masyarakat luas, mengingat banyak laporan memperlihatkan bahwa daya beli masyarakat semakin menurun, termasuk untuk mengakses sejumlah hal, seperti pendidikan.

Pendidikan menjadi penting dalam kehidupan manusia sekarang. Dalam sejumlah undang-undang di Indonesia, pendidikan dimasukkan sebagai salah satu hak asasi manusia yang pengadaannya dijamin oleh negara. Pendidikan di Indonesia saat ini masih memiliki standar yang rendah, kualitas pengajar yang masih banyak di bawah standar serta fasilitas yang belum mumpuni. Kekurangan ini banyak ada di sekolah negeri bentukan pemerintah. Ketimpangan pendidikan di daerah dengan di kota-kota besar juga masih menjadi masalah yang perlu diselesaikan.

Maret 2018 lalu, Jokowi dengan lantang meminta sejumlah bank konvensional untuk menyokong pemerintah meningkatkan partisipasi pendidikan lewat pengadaan pinjaman pendidikan atau student loan. Hingga saat ini Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi belum menjelaskan seperti apa mekanisme yang akan digunakan.

Banyak masyarakat menyoroti sistem bunga yang akan diterapkan, bila student loan tersebut ada di Indonesia. Hal tersebut dinilai akan menimbulkan masalah layaknya sistem student loan yang diterapkan di luar negeri seperti Amerika dan Inggris. Kedua negara ini mengalami masalah berupa penunggakan pembayaran yang dilakukan pelajar. Jumlah utang yang dimiliki sangat besar jika ditotalkan, dan oleh sejumlah testimoni baru dapat dilunasi ketika mereka sudah berumur.

Berdasarkan data Yale University yang dimuat dalam situsnya (18 Mei 2017), rata-rata hutang student loan di Amerika sekitar 37 ribu dollar AS dan 55 ribu dollar AS di Inggris. Di negara Swedia yang notabene menerapkan biaya gratis untuk kuliah, tetap meninggalkan hutang student loan 20 ribu dollar AS. Bahkan sistem ini memberikan beban bagi pemerintah Inggris hingga mencapai 100 miliar dollar AS dan di Amerika sekitar 7 juta peminjam dengan bunga 14 persen melewati pembayaran lebih dari 1 tahun.

Kenyataan di atas yang perlu dipelajari oleh para pemangku kekuasaan mengapa hal ini bisa terjadi. Student loan bisa saja membuat seseorang terlilit hutang seumur hidupnya. Hal ini bisa berimbas pada mundurnya waktu mereka dalam mempersiapkan kehidupan selanjutnya seperti membentuk keluarga, membeli rumah, pakaian dan perlengkapan lainnya untuk mereka berkehidupan kelak.

Karena Indonesia masih tergolong sebagai negara yang masih memiliki tingkat ekonomi yang relatif rendah, fasilitas student loan yang kemungkinan besar akan diakses banyak mereka dari kalangan tidak mampu, hal ini bisa menjadi bumerang bagi mereka di kemudian hari, yakni malangnya hidup mereka yang harus terjerat hutang disertai kemiskinan yang menyelimuti.

Banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh negara dalam hal pengadaan student loan karena strategi ini bisa saja membantu namun bisa juga malah membebani rakyat padahal pendidikan harusnya bisa dijamin oleh negara demi peningkatan kualitas manusianya. Kerja sama dengan bank kemungkinan besar tidak akan dapat menghapus atau mengecilkan bunga yang ada dalam pinjaman, karena bank memiliki regulasi tersendiri dalam perputaran modalnya.

Justru jika pemerintah ingin mengadakan pinjaman pendidikan lunak untuk pelajar, pemerintah dapat bekerja sama dengan sejumlah platform pinjaman non-bank, yang kebanyakan berbentuk start-up untuk mengimplementasikannya. Hal ini menjadi mungkin mengingat sumber dana platform pinjaman non-bank memiliki keunikan tersendiri dibandingkan bank, sehingga dapat melahirkan regulasi yang lebih fleksibel pula.

DANAdidik misalnya, start-up pertama yang mengadakan student loan di Indonesia ini telah merintis usahanya pada tahun 2015 dan merengkuh peminat hingga puluhan ribu pendaftar. DANAdidik memberikan student loan atau pinjaman pendidikan untuk mahasiswa jenjang pendidikan D1 hingga S2 tanpa jaminan. Total pinjaman pendidikan yang hingga 20 juta rupiah dengan tenor hingga 4,5 tahun, memungkinkan pelajar melakukan pengembalian pinjaman dengan cicilan ringan. Banyak pelajar yang berhasil terdanai oleh DANAdidik kemudian dapat menyelesaikan studinya, serta melunasi pinjamannya tanpa macet.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.