Student Loan di Indonesia: Akankah Menjadi Polemik Seperti di Amerika?

“Saya ingin memberi PR (Pekerjaan Rumah) kepada Bapak Ibu sekalian. Dengan yang namanya student loan atau kredit pendidikan.” ucap presiden Joko Widodo. Tepat satu tahun lalu, presiden RI ke-7 tersebut ‘menantang’ para pimpinan bank umum di Indonesia untuk mewujudkan program pinjaman pendidikan atau yang lazim disebut student loan. 

Banyak yang mendukung, tetapi tidak sedikit pula yang menentang konsep pinjaman pendidikan. Beberapa pakar keuangan memandang program tersebut akan menuai banyak polemik seperti di Amerika Serikat yang kebanyakan lulusan universitasnya masih dibebani oleh hutang pendidikan. 

Tetapi, apa sebenarnya yang memicu membeludaknya hutang masyarakat Negeri Paman Sam tersebut akan kredit atau pinjaman pendidikan? Lalu, apakah permasalahan tersebut dapat dihindari di Indonesia?

Hutang Student Loan Amerika: Apa Penyebabnya?

Sebelum meninjau lebih jauh penyebabnya, mari pahami terlebih dahulu statistik hutang pinjaman mahasiswa di Amerika. Menurut Forbes, tahun 2019 menjadi tahun dengan angka hutang pendidikan tertinggi. Lebih dari 44 juta peminjam dengan total hutang 1,5 triliun USD, bahkan lebih tinggi dari hutang mereka akan kartu kredit. 

Jika mempertimbangkan kebanyakan orang Amerika yang menjunjung tinggi nilai kemandirian dan kebebasan, masalah hutang pendidikan ini bukanlah hal yang mencengangkan. 

Perlu diingat bahwa dewasa muda di sana terbiasa untuk hidup sendiri. Alih-alih meminjam kepada orangtua dan sanak saudara, mereka lebih memilih untuk berhutang pada pihak pemerintah maupun swasta. Berbeda dengan orang Indonesia, faktanya 73% pinjaman pendidikan di Indonesia berasal dari sanak saudara, kolega, maupun rentenir. 

Faktor lainnya bisa jadi karena budaya konsumerisme yang tinggi. Tuntutan untuk hidup dan terlihat mewah menjadi tekanan utama. Kita boleh jadi melihat orang-orang Amerika hidup mewah bergelimang harta, tetapi kenyataannya banyak dari mereka yang kesulitan makan. Mulai dari hanya makan roti setiap harinya, sampai makan di luar hanya satu bulan sekali, seperti yang dimuat di laman USA Today tentang kenyatan pahit mahasiswa di sana. Suramnya kemiskinan di Amerika Serikat tertutupi oleh keglamoran yang banyak dilihat di media. 

Solusi untuk Indonesia

Kembali ke negeri ini, tantangan Presiden Jokowi soal pinjaman pendidikan ala barat memicu reaksi bank-bank BUMN seperti BNI, BRI, dan BTN. Mereka mulai merampungkan program kredit pendidikannya masing-masing, dengan tenor dan bunga yang berbeda-beda pula. Tidak seperti di Amerika yang cenderung mandiri, persyaratan pinjaman pendidikan melalui bank di Indonesia harus melalui orangtua siswa yang bersangkutan. 

Pada hakikatnya, gagasan perihal pinjaman pendidikan atau student loan dapat mengurangi angka putus sekolah dan menjadi jalan keluar bagi masalah pendidikan tinggi di Indonesia. Asalkan, pemerintah dapat merencanakan dengan matang dan mengawasi dengan seksama program ini. Selain pemerintah, pihak swasta yang menyediakan layanan pinjaman pendidikan juga harus ikut menganalisis cara agar pinjaman pendidikan tidak menjadi bumerang bagi perekonomian bangsa. Misalnya saja, dengan menerapkan sistem bagi hasil atau income sharing bagi calon peminjam sebagai solusi, seperti yang dilakukan oleh startup DANAdidik sebagai wadah pinjaman pendidikan pertama di Indonesia. Perhatian pemerintah akan berkembangnya perusahaan rintisan swasta (startup) berbasis keuangan digital atau finance technology (fintech) juga ditunjukan lewat program-program kerja OJK (Otoritas Jasa Keuangan) terkait bidang ini.

Kamu kekurangan dana kuliah? Atau ingin kuliah mandiri tanpa membebani orangtua? Tidak ada salahnya kok pinjamn di fintech peer to peer. Asalkan sudah terdaftar dan diawasi OJK ya! Seperti DANAdidik yang juga didukung langsung oleh Kementerian Ristekdikti. 

Daftarkan diri kamu di website DANAdidik di sini. Cicilan murah dengan bunga tetap berkisar antara 0.83% – 1.75% /per bulan, tanpa agunan, dan kamu bisa kuliah mandiri sekarang! #SemuaBisaKuliah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.