Mahasiswa dan Keberpihakannya pada Alam: Novi Cahyati Story

Dunia saat ini tengah dilanda permasalahan yang diakibatkan dari krisis sosial-ekologis yang serius. Di Indonesia setidaknya, pada tahun 2017 seperti yang dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah terjadi 2.175 bencana alam. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kejadian bencana di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurutnya, sebanyak 95 persen kejadian bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yakni bencana yang dipengaruhi cuaca, seperti longsor, kekeringan, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrem. Namun, benarkah pengaruh cuaca menjadi satu-satunya?

Belakangan marak terjadi bencana banjir dan longsor di berbagai daerah. Hujan dengan intensitas lebat, walaupun tidak dalam waktu lama saja sudah menyebabkan sebuah wilayah kebanjiran. Menurut beberapa ahli, ini disebabkan karena Indonesia sudah masuk yang namanya darurat ekologis. Darurat ekologis ini terjadi utamanya akibat ulah manusia, seperti perusakan hutan, meluasnya daerah aliran sungai (DAS) kritis, serta rendahnya budaya sadar bencana masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, laju deforestasi atau perusakan hutan di Indonesia mencapai 750.000 hektar per tahun. Padahal, kemampuan pemerintah untuk melakukan rehabilitasi hutan dan lahan, maksimal hanya 250.000 hektar per tahun.

Adalah Novi Cahyati, mahasiswi asal Malang yang selalu bergelut tentang pikiran-pikiran tentang relasi manusia dan alam yang dinilainya sudah timpang dan manusia terlalu mendominasi. Sebelum menginjak bangku kuliah saja, ia sudah banyak berdebat bahkan dengan keluarganya sendiri tentang bagaimana pandangannya terkait manusia dan alam. Saat ia memikirkan untuk mengambil studi pertanian, dukungan dari orang terdekat tidak banyak diperoleh. Namun toh kenyataannya ia tetap jalan saja. Di tahun 2012, ia resmi menjadi mahasiswi program studi Sosial Ekonomi Pertanian di Universitas Brawijaya, Malang. Selama berkuliah, ia juga aktif dalam kegiatan yang berorientasi kepada sosial dan lingkungan, bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta organisasi kemahasiswaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Sejak memutuskan berkuliah, seperti yang dituturkannya, ia tidak meminta dibiayai oleh wali yang selama ini membesarkannya. Uang kuliah dan biaya hidupnya sempat didanai pemerintah melalui program Bidik Misi, namun hanya selama 4 tahun karena memang seperti itu regulasinya. Di sisa studi yang belum selesai, mahasiswa Bidik Misi wajib mendanai kuliahnya sendiri. Di satu tahun terakhir perkuliahannya, Novi sempat mencoba bekerja untuk memenuhi kebutuhan serta kewajibannya, namun ternyata tidak terpenuhi. Ia sempat berpikir untuk berhenti kuliah, di sisa upayanya, namun takdir berkata lain. Novi melakukan usaha terakhirnya dengan melakukan penggalangan dana pinjaman lewat DANAdidik dan menemukan jalannya di sana.

Cita-cita Novi, bagi sebagian orang yang tidak mau membuka pikirannya lebar-lebar mungkin dianggap sebagai sesuatu yang dangkal dan tidak sesuai dengan apa yang sedang diperjuangkannya hingga kini. Novi ingin jadi petani di daerah terluar dan tertinggal. Memang bukan materi yang sedang dicarinya, melainkan kebesaran hati untuk membuktikan cintanya pada manusia dan alam lewat merawat dan menjaga relasi keduanya yang belakangan sudah goyah dan tidak sehat. Tidak banyak manusia seperti Novi, mahasiswa yang berani menunjukan keberpihakannya, bukan pada uang, bukan pada jabatan, bukan pada kuasa, tetapi pada ia yang selalu memberi dan sesungguhnya berelasi kuat dengan manusia, yaitu alam.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.