Lalui Perkuliahan yang Tak Mulus, Mahasiswi Bercadar Ini Berhasil Buat Bangga Kampusnya: Anida Humairah Story

Cadar sebagai salah satu simbol agama Islam beberapa waktu terakhir sering diasosiasikan dengan hal-hal yang sebetulnya sama sekali tidak berdasar. Hanya karena cadar digunakan oleh sejumlah orang dan orang tersebut melakukan penyelewengan saat sedang mengenakan cadar, kemudian cadar seolah dijadikan penyokong dari tindakan penyelewengan tersebut. Peristiwa perempuan bercadar yang diusir dari angkot tidak lama setelah ada aksi terorisme yang dilakukan perempuan bercadar di Indonesia adalah salah satu contohnya. Sesungguhnya yang seperti itu termasuk ke dalam sesat pikir dalam berlogika yakni Fallacy of Dramatic Instance.

Fallacy of Dramatic Instance yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan menggunakan satu-dua kasus saja untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation). Suatu peristiwa atau kasus yang terjadi terkait pengalaman pribadi kita dalam satu lingkungan tertentu tidak bisa dengan serta merta dapat ditarik menjadi satu kesimpulan umum yang berlaku di semua tempat, dan masyarakat kita hingga saat ini masih sering terjebak sesat pikir yang demikian.

Anida Humairah merupakan alumnus Universitas Sriwijaya bercadar dan berprestasi yang namanya sempat menjadi perbicangan nasional. Perjuangannya menimba ilmu serta memperdalam agama di saat yang bersamaan layak menjadi inspirasi. Di awal perkuliahannya, Anida belumlah menggunakan jilbab terlebih cadar seperti saat ini. Seperti remaja kebanyakan, Anida senang bergaul dan menjalani hobinya yakni menyanyi. Namun demikian, Anida memang menaruh perhatian khusus pada agama yang ia anut, karena baginya keimanan haruslah diiringi dengan pengetahuan yang mumpuni atas apa yang diimani.

Di pertengahan kuliahnya, Anida kemudian memutuskan menggunakan jilbab, wujudnya masihlah jilbab segiempat sederhana. Selain pendalaman agama yang semakin matang dan menjauhnya Anida dari aktivitas yang dianggapnya kurang membawa manfaat, Anida tidak banyak berubah. Ia tetaplah perempuan periang yang supel dan ramah serta disenangi oleh teman-temannya. Sehingga kiranya apapun yang Anida kenakan sepertinya tidak pernah berpengaruh besar atas citranya. Saat Anida memutuskan bercadar pun, teman-temannya nampak mendukung saja.

Di akhir perkuliahannya, Anida mengalami kesulitan keuangan utamanya untuk menjalani kewajiban administrasi perkuliahannya hingga harus melakukan upaya serius untuk memperoleh pertolongan. Beruntungnya, Anida dipertemukan dengan DANAdidik. DANAdidik merupakan perusahaan penyedia layanan pinjaman pendidikan yang sistemnya tidak menyerupai bank konvensional. Sistem verifikasi yang dilakukan oleh DANAdidik juga ia anggap tidak mendiskriminasinya sebagai muslimah, serta bercadar. Dari pinjaman tersebut akhirnya Anida dapat menyelesaikan kewajibannya dan menjalani proses menuju kelulusan.

Di wisudanya, dari jauh-jauh hari Anida telah memantapkan hati untuk berbusana tanpa menanggalkan cadarnya. Karena yang demikian belum pernah dilakukan sebelumnya di kampusnya, Anida kemudian diminta menjalani sejumlah prosedur khusus mulai dari menemui langsung Rektor hingga Wakil Rektor. Bersyukurnya ia bahwa universitas melalui pemangku jabatan tertinggi secara tidak langsung memberinya izin atas dasar bahwa selama ini larangan berpakaian yang ada tidak memasukan cadar di dalamnya, dan memang sampai selamanya harusnya tidak.

Salah seorang sahabatnya, Dewi Syahrani, seperti dilansir dalam salah satu portal berita menjadi pendukung moral Anida melakukan apa yang menjadi hak dan keinginannya tersebut. Menurutnya ekspresi keimanan lewat cadar serta wisuda yang dijalani Anida merupakan suatu pencapaian hidup yang diraihnya dengan niat yang berasal dari hati. Anida berharap kedepannya kampusnya akan terus mengimplementasikan nilai toleransi dan kebebasan berekspresi sejauh hal tersebut tidak bertentangan dengan norma hukum yang berlaku.

DANAdidik sendiri melalui kerja-kerjanya yang bisa diakses secara transparan di situs danadidik.com mendukung penuh semua pelajar dari berbagai kalangan untuk mengejar cita-citanya sambil tetap menjadi dirinya sendiri. Hal ini kami tunjukkan lewat tagline kami #PendidikanTinggiUntukSemua dan #SemuaBisaKuliah sebagai sarana untuk menyuarakan dukungan kami tersebut. Kebijakan kami dan sponsor untuk mendanai pinjaman Anida dan mahasiswa-mahasiswi di luar sana tanpa pandang bulu adalah juga bentuk dukungan kami bagi terciptanya kondisi pendidikan yang inklusif.

Berikut kami hadirkan untaian inspiratif yang disampaikan oleh Anida Humairah kepada semua orang di luar sana, “Karena sesungguhnya istiqomah itu tidaklah sulit kalau kita ikhlas menjalaninya.”.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.