Ini Dia 5 Mitos Fintech yang Wajib Dipahami

Teknologi Finansial (disingkat Tekfin atau Fintech) mengacu pada mata uang virtual. Produk utama fintech yang disebut-sebut akan mengalahkan pinjaman bank adalah Peer to Peer (P2P) Lending. P2P memberikan wadah yang mempertemukan peminjam dengan pemberi pinjaman (lender), misalnya DANAdidik sebagai platform pinjaman pendidikan pertama di Indonesia yang terdaftar dan diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Lalu apakah benar kalau semakin lama pamor bank akan kalah dengan fintech? Atau malah di masa depan fintech diprediksi akan runtuh? Simak lima mitos perihal fintech yang seringkali membuat masyarakat bertanya-tanya ini seperti dilansir Compare Remit.

Fintech Hanyalah Gelembung Ekonomi

Ternyata banyak yang mengira fintech akan bernasib sama dengan ‘keruntuhan dot-com’ saat insiden ledakan internet terjadi sekitar tahun 2000 silam. Anggapan itu salah. Faktanya pada Januari 2017 saja, jika diakumulasikan perusahaan fintech di seluruh dunia memiliki total nilai 6 hingga 8 miliar Dolar Amerika menurut FinTech Business.

Fintech Bersaing dengan Bank

Anggapan ini adalah miskonsepsi. Sebaliknya, sektor fintech dan perbankan sebenarnya bisa bekerja sama. Semakin banyak bank yang berkolaborasi dengan fintech karena mereka melihat fintech sebagai gelombang masa depan. Sebuah studi Accenture pada tahun 2016 baru-baru ini menemukan 80% bank di London melihat tingginya peluang bisnis pada kerja sama dengan startup fintech. Enam puluh persennya merupakan bank bank besar yang siap untuk menghabiskan modal yang signifikan untuk menguji potensi fintech.

Regulasi Akan Menekan Fintech

Peraturan pemerintah terkenal karena mengekang inovasi. Fintech menangani hal ini dengan bekerja sama dengan otoritas pemerintah dan melobi untuk membantu fintech menghadapi tantangan. Di Indonesia, kita punya OJK atau Otoritas Jasa Keuangan sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki tugas pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan. Masyarakat juga tidak perlu takut karena sekarang terdapat AFPI atau Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia yang menghimpun lembaga fintech salah satunya DANAdidik.

Hanya Menjangkau Pasar Besar

Ada yang mengatakan bahwa fintech adalah gerakan elit yang hanya menyentuh ranah luas seperti Hong Kong, Silicon Valley, New York, dan London. Kenyataannya jauh dari itu. Fintech, khususnya P2P Lending justru menjadi peluang bagi segmen mikro yang belum memiliki kemampuan untuk mendapat pinjaman dari bank. Misalnya saja mahasiswa yang ingin meringankan beban orangtua, tetapi belum berpenghasilan dapat meminjam di DANAdidik karena cicilan ringan dan tanpa agunan dengan tenor yang cukup panjang, yaitu mencapai empat tahun.

Hanya Alat Peminjaman dan Pembayaran

Para kritikus mengatakan bahwa meskipun fintech dapat menawarkan layanan yang berharga, keuntungannya terbatas pada pinjaman dan transaksi. Forum Ekonomi Dunia menunjukkan bahwa tawaran fintech jauh lebih banyak. Laporan itu menemukan bahwa 80% dari perusahaan fintech juga berurusan dengan asuransi, penyediaan pasar, manajemen investasi dan peningkatan modal. Selain itu, fintech juga dapat menghemat uang dan waktu dan mungkin merupakan pendeteksi penipuan keuangan yang jauh lebih baik daripada bank.

Para kritikus memandang fintech dengan sebelah mata, tetapi data menunjukkan sebaliknya. Jauh dari kekacauan, fintech memiliki regulasi yang jelas, menjangkau pasar terpencil, berurusan dengan keragaman aspek keuangan, dan bekerja sama dengan bank dan industri keuangan untuk menyediakan layanan yang aman, efektif dan murah. Selain itu, fintech yang memberikan pinjaman pendidikan juga berdampak baik karena mengenalkan investor pada investasi sosial yang lebih luas guna memajukan pendidikan dan perekonomian bangsa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.