#AnakDidik Ini Fokuskan Diri Pada Anak Berkebutuhan Khusus: Rekso Wardoyo Story

“Saya sangat berharap untuk segera mendapatkan sponsor. Saya rencana lulus Desember 2017, kalau belum membayar biaya sidang di bulan ini, saya terancam tidak lulus sesuai rencana dan itu akan sangat menyulitkan saya kedepannya. Saya telah diminta mengajar tahun depan di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bekasi sesuai dengan bidang ilmu saya, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya ingin membuat kemajuan bagi pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Semoga Tuhan mudahkan jalannya.” – Rekso Wardoyo

Seperti itulah perkataan salah seorang mahasiswa bernama Rekso Wardoyo yang ditulisnya pada kolom Tentang Saya di situs DANAdidik. Namun begitu, Tim DANAdidik tidak pernah mentah-mentah menelan. Kami selalu mengadakan penelusuran terkait latar belakang calon #AnakDidik, begitu pun dengan Rekso Wardoyo. Rekso merupakan anak yang dibesarkan seorang diri oleh ibunya. Atas kemauan kerasnya, ia berkesempatan berkuliah di Universitas Islam Nusantara, Bandung mengambil jurusan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dukungan dari ibu serta keluarganya yang lain semakin memantapkan Rekso untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Melalui keilmuannya, Rekso berharap tidak hanya dapat mencukupi kebutuhan finansialnya melainkan dapat pula bermanfaat untuk sesamanya. Hal itu merupakan salah satu pesan dari ibunya yang coba ia amalkan dalam kehidupan. Rekso melihat, ABK merupakan sekumpulan anak dengan berbagai macam keterbatasan, namun pula dianugerahi segala kemampuan; bahkan dapat melebihi orang pada umumnya. Menurut pengakuannya, ia seringkali menemui anak tunanetra yang sangat peka dalam mendengar dan untuk itu sangat pandai memainkan alat musik, dan masih banyak lagi kemampuan lain dari anak yang berbeda.

Ketika duduk di bangku kuliah, Rekso telah sempat menyalurkan ilmunya dengan menjadi tenaga pengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Bandung. Dari situ Rekso mendapatkan banyak sekali pengalaman luar biasa. Dan dari situ pula ia kemudian semakin memantapkan niatnya untuk setelah lulus kemudian menjadi tenaga pengajar di Sekolah Luar Biasa. Mimpinya yang lebih besar lagi adalah, di daerah asalnya, ia ingin membangun yayasan untuk ABK. Karena diakuinya, ABK belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dan penanganan khusus sebagaimana mestinya oleh negara. Contohnya saja misalnya, tempat wisata bahkan jalur pejalan yang ada sekarang saja menurutnya masih jauh sekali dari kata inklusif bagi kalangan mereka. Mereka untuk itu mengalami kesulitan bersosialisasi yang luar biasa.

Di tengah perhatiannya yang besar terhadap ABK, ternyata ia sendiri memiliki serangkaian persoalan hidup. Di akhir perkuliahannya, Rekso kekurangan dana untuk membayar sejumlah biaya yang dibutuhkan. Ditambah, suatu waktu di masa pengerjaan tugas akhirnya, ia harus kehilangan sejumlah barang berharganya seperti laptop (dan segala data penting di dalamnya, seperti dokumen tugas akhir), di kamar kosnya sendiri. Masa tingkat akhirnya itu menjadi masa yang sangat sulit baginya hingga kemudian ia mendapat informasi mengenai keberadaan DANAdidik oleh salah seorang temannya.

Setelah melalui serangkaian pertimbangan, ia kemudian menggalang dana dan melakukan serangkaian kampanye melalui DANAdidik. Semesta seperti ingin bahu-membahu meringankan beban Rekso. Tidak butuh waktu lama, Rekso memperoleh sejumlah dana yang dibutuhkannya. Ia kemudian berhasil lulus sidang tugas akhir di akhir tahun 2017 dan langsung mendapatkan penawaran kerja di SLB Negeri di Bekasi. Kesulitan yang sempat mendera Rekso ia jadikan pengingat berharga. Kedepannya, ia mengaku siap menjalani kariernya dan masih tetap dengan fokusnya yakni memberikan pendidikan yang layak dan mumpuni bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.