4 Mitos Investasi Sosial yang Perlu Diketahui Calon Impact Investor

Anda boleh jadi seorang investor, tetapi apakah anda mengkategorikan diri sebagai seorang impact investor? Istilah Impact Investing atau Investasi Sosial (bisa juga disebut Socially Responsible Investing/ SRI) memang masih belum populer di Indonesia. Secara singkat, investasi sosial adalah investasi yang dilakukan pada perusahaan ataupun organisasi dengan maksud untuk menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur bersamaan dengan pengembalian finansial (return), misalnya memberikan pinjaman pendidikan.

Mungkin sebagian investor familiar dengan konsep investasi sambil berderma ini. Beberapa kalangan pemerhati keuangan masih skeptis dengan investasi sosial, utamanya karena investasi yang sering dikaitkan dengan P2P Lending ini dianggap memberikan untung yang sedikit bahkan tidak sama sekali.

Faktanya, anggapan itu merupakan mitos semata. Selain gagasan tersebut, masih banyak mitos lainnya seputar investasi sosial. Artikel DANAdidik kali ini akan membahas empat mitos yang sering diperbincangkan terkait investasi sosial.

Investor perlu mengorbankan keuntungan untuk tujuan tertentu

“Memang bagus untuk berinvestasi di perusahaan yang ingin menciptakan dampak sosial, tetapi bukankah pada akhirnya kita tidak akan memedulikan return?”

Begitu kalimat yang sering diucapkan orang-orang skeptis yang menganggap investasi sosial tidak dapat memberikan pengembalian finansial yang kuat, tetapi semakin banyak laporan yang membuktikan sebaliknya. Sebagai contoh, pada tahun 2015, Wharton School di University of Pennsylvania merilis “Great Expectations,” menunjukkan bahwa dalam dana investasi sosial dari ekuitas swasta global, pengembalian konsesi tidak diperlukan untuk menjaga tujuan sosial atau lingkungan mereka. The GIIN (Global Impact Investing Network) juga menjabarkan data bahwa 15 miliar USD dari mayoritas investasi sosial telah menghasilkan tingkat pengembalian pasar. Sebagai bahanpertimbangan awal, mulailah dengan berinvestasi pada P2P Lending DANAdidik yang memberikan return hingga 12 – 15 persen flat per tahun.

Impact Investing adalah kanibalisasi kedermawanan

Dengan semakin banyaknya yayasan yang terlibat, ada beberapa kekhawatiran bahwa investasi sosial hanya akan menggantikan tindakan kedermawanan atau filantropi, menciptakan celah dalam pendanaan atau berpotensi memaksa organisasi nirlaba untuk mengambil struktur operasi yang kurang ideal untuk menjadi ramah-investasi.

Beberapa orang takut bahwa investasi sosial dipandang sebagai “peluru perak”, alih-alih “panah baru” dari tujuan impact investor yang berusaha untuk memperjuangkan semua jalan dalam upaya menuju dampak sosial.

Padahal, investasi sosial akan bekerja sebagai pelengkap yang kuat, alih-alih pengganti, untuk alat filantropi lainnya baik melalui investasi terkait misi atau program sosial. Seperti misalnya memberikan pinjaman pendidikan untuk meningkatkan ekonomi bangsa.

Investasi hanya untuk “orang baik”, bukan investor andal

Mungkin perubahan terbesar yang telah mendorong investasi sosial adalah bagaimana dalam beberapa tahun belakangan ini para investor kelas dunia, lembaga keuangan terkemuka, sampai ekuitas swasta semuanya berkontribusi. Nama-nama seperti Bill Gates, Elon Musk, Reid Hoffman, Vinod Khosla, Marc Andreessen, BlackRock, Bain Capital, Goldman Sachs mencicipi investasi sosial.

Sudah beberapa tahun belakangan ini, lembaga-lembaga ternama di negara maju, seperti World Economic Forum dan Aspen Institute, sampai koalisi G8 melibatkan diri dalam investasi sosial. Lalu, mengapa jenis investasi ini menjadi tren di negara maju? Alasannya sederhana, banyak perusahaan, bahkan individu, ingin menghasilkan uang sambil memberikan kesejahteraan sosial atau lingkungan untuk masyarakat.

Hanya orang kaya yang berinvestasi sosial

Gagasan ini tentunya salah besar. Buktinya, dengan investasi Peer to Peer Lending (P2P), investor, atau disebut lender, dapat meminjamkan dananya mulai dari Rp 100.000 saja. Dengan modal yang kecil, investor dapat menaikan derajat kehidupan orang banyak, misalnya dengan memberikan pinjaman pendidikan lewat DANAdidik. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, ekonomi bangsa akan ikut berkembang karena rata-rata mahasiswa yang diberikan pinjaman oleh DANAdidik merupakan tulang punggung atau generasi pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi.

Mahasiswa yang mengajukan pinjaman pendidikan lewat DANAdidik melewati serangkaian verifikasi guna menentukan credit scoring mereka. Proses tersebut meliputi wawancara, data verifikasi, wali (orang tua) menjadi co-signor atau penjamin, serta referensi teman dan kampus. Selain itu #AnakDidik (mahasiswa) juga melalui tes psikotes, digital tracking, monitor bulanan, dan lain-lain sebagai bagian dari resiko manajemen DANAdidik.

Investor dapat memilih sendiri siswa mana yang akan anda danai. Kriteria-kriteria yang umum digunakan diantaranya lembaga universitas, jurusan, kota, serta gender. Dengan tenor 30 – 48 bulan dengan opsi pelunasan awal, #AnakDidik akan mencicil setiap bulannya. Sebagai social investment, pembayaran DANAdidik tidak memberatkan mahasiswa. Kunjungi website untuk memulai investasi. Ayo investasikan rupiahmu untuk kemajuan bangsa! #SemuaBisaKuliah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.