2018 Rawan Bencana, Gunung Krakatau dan 68 Gunung dalam Pengawasan Serius

Belum usai gempa bumi di Blitar serta Donggala dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, kali ini Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung mengeluarkan lontaran pijar ke segala arah serta aliran lava pijar ke selatan. Hingga Selasa (2/10/2018) dini hari, sudah terjadi ratusan letusan Gunung Anak Krakatau.

Sebagai perujuk informasi, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa Gunung Anak Krakatau hampir setiap hari meletus.  Menurut dia, sampai saat ini kondisi masih aman jika berada di luar radius 2 km dari kawah. Namun masyarakat dihimbau untuk berhati-hati, mengantisipasi adanya letusan besar tidak terduga.

Sementara itu, laporan tertulis staf Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Jumono yang diterima di Bandarlampung, Selasa pagi, periode pengamatan 1 Oktober 2018 pukul 00:00 WIB, secara visual kondisi gunung berkabut 0-III, sedangkan asap kawah tidak teramati dan ombak laut tenang.

Terdengar suara dentuman dan getaran dengan intensitas lemah hingga kuat yang dirasakan di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. Disebutkan pula, terjadi kegempaan tremor menerus, dengan amplitudo 5-50 mm dan dominan 45 mm. Cuaca di gunung api yang berdiri di dalam laut dengan ketinggian 338 meter dari permukaan laut (mdpl) ini teramati  cerah dan berawan.

Diumumkan pula, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau mencapai Level II (Waspada), dan direkomendasikan masyarakat maupun wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawasan dalam radius 2 km dari kawah.

Pemerintah melalui Badan Geologi Kementerian ESDM memantau secara terus menerus keadaan gunung api di Indonesia. Dari 127 gunung aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara terus menerus selama 24 jam/hari. Demikian disampaikan Badan Geologi melalui Laporan Kebencanaan yang diterbitkan Selasa (2/10/2018).

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan sedetik ke depan sekalipun. Meski situasi tersebut sangat mungkin tidak Anda alami, bukan berarti Anda tidak dapat mempersiapkan apa saja yang harus dilakukan ketika bencana tersebut datang. Sebagai bentuk antisipasi, berikut akan dipaparkan 3 cara melindungi diri dari gunung meletus:

1) Jika Lahar Menghampiri Anda

Jika Anda berada di dekat gunung, biasanya sejumlah kuncen atau penjaga gunung akan memberitahukan kondisi terkini gunung. Anra harus awas dan peduli terhadap peringatan yang mereka berikan. Jika Anda mendapat instruksi untuk meninggalkan tempat atau mengevakuasi diri, lakukanlah segera. Meski Anda tidak melihat bahaya di dekat Anda, namun bukan berarti Anda dapat menghiraukan informasi yang ada. Tidak ada salahnya menyelamatkan diri bahkan sebelum bencana itu datang. Jika Anda melihat lahar menghampiri Anda, lari sekencang mungkin atau berlindung di tempat yang tinggi. Jangan berdiri di atas benda kayu karena kemungkinan besar benda itu akan terbakar. Jangan pula berdiri di atas benda besi karena kemungkinan besar benda itu akan menghantarkan panas.

2) Jika Anda Berada di Dalam Rumah

Jika saat gunung meletus, Anda sedang berada di dalam rumah, yang dapat Anda lakukan adalah menutup semua jendela dan pintu rumah untuk meminimalisir kabut asap dan partikel lain yang mencoba masuk. Siapkanlah pakaian, obat-obatan serta sejumlah barang berharga dalam satu tas ringkas untuk dibawa saat perlu meninggalkan rumah atau mengevakuasi diri. Jika memiliki hewan peliharaan, bawa serta mereka ke tempat pengungsian dengan sejumlah persiapan seperti makanan serta selimut. Jika Anda memiliki rumah berlantai lebih dari satu, sebelum mengevakuasikan diri ke tempat penampungan, Anda mungkin bisa mengevakuasi diri berada di lantai 2 atau lebih tinggi lagi di rumah Anda. Hal ini jika yang terjadi hanya tinggal lahar dingin, bukan kepulan asap tebal yang membahayakan pernapasan.

3) Jika Anda Berada di Luar Rumah

Carilah benda keras namun dapat tergenggam untuk melindungi kepala Anda. Sebaiknya cepat memindahkan diri ke dataran tinggi dan jauhi area bencana alam. Selalu perhatikan himbauan dari petugas yang mengetahui kondisi terkini gunung yang sedang aktif. Sebaiknya tidak memisahkan diri dengan kelompok, agar lebih mudah memperoleh bantuan jika terjadi sesuatu. Jangan berada di tanah lapang tanpa ada gedung di sekeliling. Jika anggota tubuh seperti mata, hidung dan tenggorokan terasa sakit akibat asap vulkanik, sebaiknya segera menjauh dari daerah tersebut. Apabila rasa sakit berkelanjutan hingga membuat Anda tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, segera minta pertolongan pada orang sekitar atau minta seseorang untuk menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat.

Meski sejak di awal tahun 2018 Indonesia telah mengalami sejumlah bencana alam yang tidak kita kehendaki, namun berputus asa bukanlah sikap kita menghadapi ini semua. Pemerintah dan sejumlah badan pengawas telah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan peringatan sedini mungkin atas kemungkinan terjadinya bencana, hingga menggelontorkan sejumlah bantuan bagi masyarakat terdampak bencana. Semoga sejumlah bencana yang menimpa Indonesia kini, dapat kita hadapi dengan penuh persiapan serta lapang dada.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.